Well, hello again guys. Setelah beberapa lama gue ga say hi dan coret-coret disini, sekarang adalah waktu yang tepat buat gue mencoret-coret notes gue ini. Mungkin beberapa dari kalian ada yang bertanya-tanya kenapa gue mau ngebahas yang namanya gentleman. Kalo engga, pura-puralah bertanya
Jadi, kenapa cowo yang bertindak sebagai mana lelaki itu disebutnya gentle?? Padahal menurut kamus online andalan gue gentle itu berarti lemah lembut, jinak *kucing kali jinak*, pokoknya sesuatu yang lembut deh. Terus, kenapa ya kalo cowo yang selalu ngumpet dari permasalahan, ga berani nembak cewe yang dia suka ataupun takut sama gorilla dibilang ga gentle??
Kalo ngikutin arti dari kamus, gentleman adalah cowo-cowo lenje yang demennya touch up, ngomongnya pelan dan teratur sampe kalo ngomong di metro mini, dia terlihat seperti pantomim. Tapi, gentleman beneran ga akan begitu.
Kenapa cowo yang menjunjung tinggi ladies first dibilang gentleman??
Menurut gue, cowo yang mendahulukan cewe, yang protect dan keep cewe dan keluarganya dari marabahaya adalah cowo-cowo yang punya hati gentleman. Cowo yang ga selfish dan menjaga kenyamanan cewe dan keluarganya adalah cowo yang pantes dikasih gelar gentleman.
Gentleman udah susah banget dicari di zamannya kuda makan dollar ini. Sekarang banyak cowo lebih banyak menjaga keamanan dirinya sendiri, cowo lebih banyak yang pake slogan "yang penting gue seneng" daripada harus mikirin cewe atau keluarganya.
Kalo susah dicari, berarti lo belom pernah nemu dong, feb?!
Eits, susah dicari bukan berarti ga ada. Gue pernah dong nemuin gentleman kayak gitu. Tapi sayangnya, gue sadar kalo beliau adalah gentleman disaat beliau udah pergi dari hidup gue. Emang bener kata orang, sesuatu akan terasa berharga banget ketika hal tersebut udah pergi. Dan bener, gue kehilangan banget. Dan sekarang, cuma bayangan dan memories aja yang tinggal di otak gue.
Gue ga berharap punya cowo sekeren Frank Iero, ga berharap punya cowo seganteng Duncan James, ga berharap punya cowo seimut Cory Monteith, ataupun seperfect Tom Cruise. Tapi gue berharap punya cowo yang segentle om Bob. Walaupun beliau udah pergi, tapi sikap beliau ke keluarganya kasih gue gambaran seperti apa seharusnya pria bertindak.
tribute to besties's dad
Jumat, 28 Januari 2011
Rabu, 01 Desember 2010
Gaul
Apa arti gaul sebenernya?? Well, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia gaul berarti hidup berteman (bersahabat). Tapi, menurut definisi lain, gaul adalah tren anak muda yang digunakan untuk menilai kepopuleran. Berakar dari pergaulan yang bermakna komunitas, kata gaul berupa parameter tren kata atau baju atau benda yang dipakai apakan sudah mengikuti tren yang ada atau tidak.
Mungkin definisi yang terakhir adalah definisi yang banyak dianut oleh banyak anak muda nan gaul dan sedikit labil sekarang ini, atau mungkin udah berubah lagi.
Well, sekarang yang gue tangkep adalah, gaul berarti hidup kebarat-baratan, gaul lebih cenderung ke western. Kalo cara hidup lo ga ngikutin cara hidupnya teenagers di America, Eropa,Ciledug atau negara maju lain, maka lo ga gaul.
Contoh yang pernah kejadian sama gue adalah....
Anak gaul : Feb, lo ada rokok ga?
Gue : Wah, sorry gue ga ngerokok. Nyium bau rokok aja gue udah sesek napas.
Anak gaul : Ah, ga gaul lo, Feb.
Gue :
Kalo boleh jujur, gue lebih milih dibilang ga gaul dan hidup lebih lama daripada gaul dan cepet mati karena rokok.
Mungkin itu adalah contoh satu dari ribuan anak gaul diluar sana. Contoh lain yang mengejutkan adalah free sex yang merajalela di Indonesia. Semua orang tau, bahkan temen-temen gue yang memang lahir, tinggal, dan gede disana pun tau kalo Indonesia adalah negara yang menganut FREEDOM without FREE SEX.
Bukti Indonesia mulai menganut free sex adalah langkanya jumlah teenager yang masih virgin. Terbukti sebesar 51% cewe dengan rentan umur 15 - 21 taun sudah pernah melakukan hubungan yang harusnya tidak dilakukan oleh mereka yang belum menikah. Menurut anak gaul zaman sekarang, kalo lo ga melakukan habit teenagers disana, maka lo ga gaul. Kalo lo ga ngerokok, lo kurang asik. Kalo lo ga nge-beer, lo ga gaul. Kalo lo ga free sex, lo ketinggalan zaman.
Gue pribadi lebih setuju dengan definisi gaul menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia tadi. Buat gue, gaul ga harus menjadi seseorang dengan paham western dan ngikutin trend dengan ngerusak badan sendiri. Anak gaul bukan berarti ga bagus. Gue sama sekali ga bermaksud untuk men-judge negatif pihak manapun dan dari golongan manapun.
Menjadi gaul ataupun ga gaul itu pilihan yang harus kembali ke diri masing-masing. Jadi gaul itu ga jelek, tapi alangkah bagusnya kalo lo kembali mengingat norma-norma yang berlaku di tempat dimana lo tinggal sekarang ini, dan mengingat apa yang diajarkan sama Tuhan lo.
Mungkin definisi yang terakhir adalah definisi yang banyak dianut oleh banyak anak muda nan gaul dan sedikit labil sekarang ini, atau mungkin udah berubah lagi.
Well, sekarang yang gue tangkep adalah, gaul berarti hidup kebarat-baratan, gaul lebih cenderung ke western. Kalo cara hidup lo ga ngikutin cara hidupnya teenagers di America, Eropa,
Contoh yang pernah kejadian sama gue adalah....
Anak gaul : Feb, lo ada rokok ga?
Gue : Wah, sorry gue ga ngerokok. Nyium bau rokok aja gue udah sesek napas.
Anak gaul : Ah, ga gaul lo, Feb.
Gue :
Kalo boleh jujur, gue lebih milih dibilang ga gaul dan hidup lebih lama daripada gaul dan cepet mati karena rokok.
Mungkin itu adalah contoh satu dari ribuan anak gaul diluar sana. Contoh lain yang mengejutkan adalah free sex yang merajalela di Indonesia. Semua orang tau, bahkan temen-temen gue yang memang lahir, tinggal, dan gede disana pun tau kalo Indonesia adalah negara yang menganut FREEDOM without FREE SEX.
Bukti Indonesia mulai menganut free sex adalah langkanya jumlah teenager yang masih virgin. Terbukti sebesar 51% cewe dengan rentan umur 15 - 21 taun sudah pernah melakukan hubungan yang harusnya tidak dilakukan oleh mereka yang belum menikah. Menurut anak gaul zaman sekarang, kalo lo ga melakukan habit teenagers disana, maka lo ga gaul. Kalo lo ga ngerokok, lo kurang asik. Kalo lo ga nge-beer, lo ga gaul. Kalo lo ga free sex, lo ketinggalan zaman.
Gue pribadi lebih setuju dengan definisi gaul menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia tadi. Buat gue, gaul ga harus menjadi seseorang dengan paham western dan ngikutin trend dengan ngerusak badan sendiri. Anak gaul bukan berarti ga bagus. Gue sama sekali ga bermaksud untuk men-judge negatif pihak manapun dan dari golongan manapun.
Menjadi gaul ataupun ga gaul itu pilihan yang harus kembali ke diri masing-masing. Jadi gaul itu ga jelek, tapi alangkah bagusnya kalo lo kembali mengingat norma-norma yang berlaku di tempat dimana lo tinggal sekarang ini, dan mengingat apa yang diajarkan sama Tuhan lo.
Kamis, 25 November 2010
Gelar. Penting ga sih??
Sesuai dengan judulnya, gue mempertanyakan kepentingan gelar. Gelar disini bukan gelar jadi juara sabuk emas di tinju kelas bulu kaya si Chris Brown John, atau gelar karpet bareng-bareng buat rembukan di sekretariat RT. Gelar yang gue maksud adalah gelar sebagai seorang diploma, sarjana, master, atau yang sejenis.
Tadi pagi, waktu lagi kelas bahasa Inggris, dosen gue yang serba bisa, berpengalaman, gaul, namun sedikit kepo cerita tentang kehidupannya dan kehidupan Thomas Alfa Edison zaman dahulu.
Apakah mereka temen main gundu bareng waktu SD??
Oh absolutely not! Dosen gue ga setua itu kok. Beliau suka cerita kalo dulu waktu kecil dia punya dendam pribadi sama si Tom. Dulu waktu beliau masih sekolah SD, ibunya selalu membandingkan beliau dengan Thomas Alfa Edison. Kalo dosen gue males belajar ibunya bakal ngegebukin sambil bilang gini "Tuh liat tuh Thomas Alfa Edison. Dia selalu belajar sampe bisa pinter gitu. Kamu contoh dong dia!"
Dan dosen gue berpikir "sial nih si Thomas. Gara-gara dia gue jadi dipukulin emak gue."
Akhirnya, dendam pun terbentuk di dalam lubuk hati dosen gue yang saat itu masih berwujud sebagai anak labil.
Ga hanya itu, gue juga baru tau kalo Edison adalah salah satu contoh manusia tanpa gelar yang sukses. Beliau cuma sekolah selama 3 bulan, lalu keluar lagi. Beliau selama ini belajar cuma dari buku-buku di perpustakaan. Lalu dari situ, beliau bisa mengembangkan apa yang beliau pelajari.
Setelah selesai jam pertama, gue pindah ke kelas Mikro. Dan entah kenapa, bahasan hari ini nyerempet kesitu lagi. Dosen mikro gue bilang kalo hal yang paling penting dari manusia adalah isi kepalanya, bukan gelar apa yang dia punya.
Mungkin buat masyarakat Indonesia pada umumnya, gelar adalah suatu kebanggaan tersendiri. Contohnya adalah seorang dokter di daerah rumah gue. Kemana dia pergi, sebisa mungkin dia mendeklarasikan bahwa dirinya adalah seorang dokter. Di mobilnya, dipasang air brush kalo dia adalah seorang dokter lengkap dengan alamat tempat praktek dan nomor telepon yang bisa dhubungi, begitupun di jalanan menuju tempat prakteknya, ada beberapa banner penunjuk arah buat sampe ketempat itu. Kalo Dora mau kesana, pasti Dora ga akan tersesat. Buat gue, si dokter ini agak too much. Tapi, mungkin dia bangga dengan kata dokter yang menempel di depan namanya.
Dosen gue bilang, "Buat apa gelar kalo otaknya kosong. Gelar sebagai sarjana bukan berarti dia intelek. Banyak sarjana asal sarjana. Udah lulus, terima ijazah. Mereka langsung cari kerja di koran sambil minum kopi. Mereka cuma santai tanpa improve skill mereka. Nilai pas-pasan, tapi berharap dapet kerjaan bagus."
Oke, omongan itusangat mengena Dan gue sangat setuju sama dosen gue. Sebuah gelar ga menjamin mutu seseorang. Tanpa bermaksud menjatuhkan pihak manapun, Kita ambil contoh Om Bob Sadino, ownernya Kem Chicks, Dirut Kem Food dan Kem Farm, dan Bapak Chairul Tanjung, ownernya Trans Corp, bank Mega, dan beberapa perusahaan lain.
Bergelarkah beliau berdua?? Dan jawabannya adalah TIDAK. Beliau berdua ada yang ga kuliah dari awal maupun berhenti kuliah di tengah jalan. Tapi kualitas diri beliau-beliaulah yang bikin beliau jadi seorang manusia yang bernilai tinggi. Beliau ga gampang nyerah buat improve kualitas diri beliau jadi lebih baik lagi. Ga bergelar bukan jadi halangan buat beliau-beliau ini untuk mengembangkan diri dan skill dibidang masing-masing. Bahkan, ribuan sarjana pun berlomba-lomba datang ke kantor beliau dan melamar jadi bawahannya.
Buat gue, yang penting dalam hidup adalah bersyukur dan selalu improve buat jadi something. Improve di bidang apapun, seni, ekonomi, sastra, politik, science, anything you want. Kalo lo mau belajar buat jadi lebih baik, gue yakin Tuhan ga akan ngebiarin lo berada di kondisi yang ga baik. Tuhan pasti akan menaikkan derajat lo kearah yang lebih baik.
Gelar, penting ga sih?? Well, semuanya balik ke diri dan pemikiran masing-masing orang. Semua boleh beropini tentang apapun. Tapi buat gue pribadi, gelar bukannya ga penting. Tapi gelar akan jadi sesuatu yang nothing tanpa improvisasi kearah yang lebih baik.
Tadi pagi, waktu lagi kelas bahasa Inggris, dosen gue yang serba bisa, berpengalaman, gaul, namun sedikit kepo cerita tentang kehidupannya dan kehidupan Thomas Alfa Edison zaman dahulu.
Apakah mereka temen main gundu bareng waktu SD??
Oh absolutely not! Dosen gue ga setua itu kok. Beliau suka cerita kalo dulu waktu kecil dia punya dendam pribadi sama si Tom. Dulu waktu beliau masih sekolah SD, ibunya selalu membandingkan beliau dengan Thomas Alfa Edison. Kalo dosen gue males belajar ibunya bakal ngegebukin sambil bilang gini "Tuh liat tuh Thomas Alfa Edison. Dia selalu belajar sampe bisa pinter gitu. Kamu contoh dong dia!"
Dan dosen gue berpikir "sial nih si Thomas. Gara-gara dia gue jadi dipukulin emak gue."
Akhirnya, dendam pun terbentuk di dalam lubuk hati dosen gue yang saat itu masih berwujud sebagai anak labil.
Ga hanya itu, gue juga baru tau kalo Edison adalah salah satu contoh manusia tanpa gelar yang sukses. Beliau cuma sekolah selama 3 bulan, lalu keluar lagi. Beliau selama ini belajar cuma dari buku-buku di perpustakaan. Lalu dari situ, beliau bisa mengembangkan apa yang beliau pelajari.
Setelah selesai jam pertama, gue pindah ke kelas Mikro. Dan entah kenapa, bahasan hari ini nyerempet kesitu lagi. Dosen mikro gue bilang kalo hal yang paling penting dari manusia adalah isi kepalanya, bukan gelar apa yang dia punya.
Mungkin buat masyarakat Indonesia pada umumnya, gelar adalah suatu kebanggaan tersendiri. Contohnya adalah seorang dokter di daerah rumah gue. Kemana dia pergi, sebisa mungkin dia mendeklarasikan bahwa dirinya adalah seorang dokter. Di mobilnya, dipasang air brush kalo dia adalah seorang dokter lengkap dengan alamat tempat praktek dan nomor telepon yang bisa dhubungi, begitupun di jalanan menuju tempat prakteknya, ada beberapa banner penunjuk arah buat sampe ketempat itu. Kalo Dora mau kesana, pasti Dora ga akan tersesat. Buat gue, si dokter ini agak too much. Tapi, mungkin dia bangga dengan kata dokter yang menempel di depan namanya.
Dosen gue bilang, "Buat apa gelar kalo otaknya kosong. Gelar sebagai sarjana bukan berarti dia intelek. Banyak sarjana asal sarjana. Udah lulus, terima ijazah. Mereka langsung cari kerja di koran sambil minum kopi. Mereka cuma santai tanpa improve skill mereka. Nilai pas-pasan, tapi berharap dapet kerjaan bagus."
Oke, omongan itusangat mengena Dan gue sangat setuju sama dosen gue. Sebuah gelar ga menjamin mutu seseorang. Tanpa bermaksud menjatuhkan pihak manapun, Kita ambil contoh Om Bob Sadino, ownernya Kem Chicks, Dirut Kem Food dan Kem Farm, dan Bapak Chairul Tanjung, ownernya Trans Corp, bank Mega, dan beberapa perusahaan lain.
Bergelarkah beliau berdua?? Dan jawabannya adalah TIDAK. Beliau berdua ada yang ga kuliah dari awal maupun berhenti kuliah di tengah jalan. Tapi kualitas diri beliau-beliaulah yang bikin beliau jadi seorang manusia yang bernilai tinggi. Beliau ga gampang nyerah buat improve kualitas diri beliau jadi lebih baik lagi. Ga bergelar bukan jadi halangan buat beliau-beliau ini untuk mengembangkan diri dan skill dibidang masing-masing. Bahkan, ribuan sarjana pun berlomba-lomba datang ke kantor beliau dan melamar jadi bawahannya.
Buat gue, yang penting dalam hidup adalah bersyukur dan selalu improve buat jadi something. Improve di bidang apapun, seni, ekonomi, sastra, politik, science, anything you want. Kalo lo mau belajar buat jadi lebih baik, gue yakin Tuhan ga akan ngebiarin lo berada di kondisi yang ga baik. Tuhan pasti akan menaikkan derajat lo kearah yang lebih baik.
Gelar, penting ga sih?? Well, semuanya balik ke diri dan pemikiran masing-masing orang. Semua boleh beropini tentang apapun. Tapi buat gue pribadi, gelar bukannya ga penting. Tapi gelar akan jadi sesuatu yang nothing tanpa improvisasi kearah yang lebih baik.
Minggu, 21 November 2010
Life Class di Tengah Food Court
Beberapa hari yang lalu gue menyambangi gading sama temen-temen SMA gue. Sebenernya gue reuni nya dah dari seminggu yng lalu. Agak telat emang ngepostnya. Tapi belum basi. Kenapa?? Karena gue dapet berbagai pelajaran dan cerita yang gue ga tau waktu SMA dulu. Oek, inilah yang gue dapet kemaren :
1. Ternyata, mereka lagi orangnya!
Gue dan Rima adalah korban dari sebuah kelompok brutal yang sama. Well, gue sebut brutal karena mereka emang brutal. Ga hanya brutal di sekolah, tapi di luaran juga. Salah satu kelompok brutal ini pernah gue sebut namanya disini. Dengan alasan yang dibuat-buat dan banyak intrik, mereka memusuhi banyak orang di dalam lingkungan mereka yang mereka anggap saingannya dan ga selevel. Kasihan mereka. Buat gue, mereka ga lebih dari kecoa yang berusaha masuk ke kalangan anjing pudel.
2. Cinta bisa datang kapan aja, sama siapa aja, dimana aja, dan dengan alasan apapun
Lagi-lagi Rima, dia cerita sama gue dan yang lainnya tentang gimana dia ketemu sama calon suaminya. Kenapa cuma Rima yang cerita? Karena Rima adalah calon bride diantara 3 jomblo yang ga ngenes. Kenapa ga ngenes? karena kita masih idup dan masih bisa ketawa. Walaupun waktu Rima cerita, gue sama yang lainnya cuma bisa bilang "unyuuuu" dengan muka melas
Kenapa gue kasih tulisan dengan sub judul diatas. Karena temen gue ini menemukan jodohnya karena lobster. Bukan, bukan abang-abang lobster jodohnya. Awalnya Rima nanyain tentang lobster ke cowonya, dan setelah itu, berlanjut sampe sekarang.
3. Love needs sacrifice
Iya banget. Kalo lo sayang sama seseorang, lo harus siap berkorban dan harus siap bertahan dengan kondisi apapun. Love has a power. But we should determine whether it's big or just a little.
4. Your ex isn't best for you
Kalo lo ngerasa mantan lo yang udah jahat sama lo itu baik buat lo, segeralah lempar pikiran itu ke antartika. Kalo lo ga bisa ngelupain dia, just try and try. Get up and make up your mind. Cari lagi. Setidaknya, diantara 1000 cowo/cewe baik yang udah ga jomblo, paling nyelip 5 orang yang baik, tidak sombong, tampan/cantik, dan jomblo.
5. Saya menua
Ya, that's the point. Im getting older. Udah beberapa temen gue nikah dan akan nikah. Sementara gue masih ongkang-ongkang kaki disini dengan status Jomblo non-ngenes
Gue ga peduli dengan status jomblo non ngenes gue. Karena ada atau ga ada cowo, gue tetep bisa seneng-seneng sama temen-temen gue. Nanti kalo udah waktunya, gue yakin akan ada Mr. and Ms. Right buat para jomblo baik yang ngenes maupun non ngenes. Santai aja, everything is gonna be okay.
Walaupun gue ga peduli dengan status, tapi gue peduli dengan umur gue yang mulai menua. memang baru mau 19, tapi at least gue jadi mikir, 19 taun kebelakang, gue ngapain aja ya?? Apa yang udah gue perbuat buat hidup gue dan hidup orang lain selama ini.
1. Ternyata, mereka lagi orangnya!
Gue dan Rima adalah korban dari sebuah kelompok brutal yang sama. Well, gue sebut brutal karena mereka emang brutal. Ga hanya brutal di sekolah, tapi di luaran juga. Salah satu kelompok brutal ini pernah gue sebut namanya disini. Dengan alasan yang dibuat-buat dan banyak intrik, mereka memusuhi banyak orang di dalam lingkungan mereka yang mereka anggap saingannya dan ga selevel. Kasihan mereka. Buat gue, mereka ga lebih dari kecoa yang berusaha masuk ke kalangan anjing pudel.
2. Cinta bisa datang kapan aja, sama siapa aja, dimana aja, dan dengan alasan apapun
Lagi-lagi Rima, dia cerita sama gue dan yang lainnya tentang gimana dia ketemu sama calon suaminya. Kenapa cuma Rima yang cerita? Karena Rima adalah calon bride diantara 3 jomblo yang ga ngenes. Kenapa ga ngenes? karena kita masih idup dan masih bisa ketawa. Walaupun waktu Rima cerita, gue sama yang lainnya cuma bisa bilang "unyuuuu" dengan muka melas
Kenapa gue kasih tulisan dengan sub judul diatas. Karena temen gue ini menemukan jodohnya karena lobster. Bukan, bukan abang-abang lobster jodohnya. Awalnya Rima nanyain tentang lobster ke cowonya, dan setelah itu, berlanjut sampe sekarang.
3. Love needs sacrifice
Iya banget. Kalo lo sayang sama seseorang, lo harus siap berkorban dan harus siap bertahan dengan kondisi apapun. Love has a power. But we should determine whether it's big or just a little.
4. Your ex isn't best for you
Kalo lo ngerasa mantan lo yang udah jahat sama lo itu baik buat lo, segeralah lempar pikiran itu ke antartika. Kalo lo ga bisa ngelupain dia, just try and try. Get up and make up your mind. Cari lagi. Setidaknya, diantara 1000 cowo/cewe baik yang udah ga jomblo, paling nyelip 5 orang yang baik, tidak sombong, tampan/cantik, dan jomblo.
5. Saya menua
Ya, that's the point. Im getting older. Udah beberapa temen gue nikah dan akan nikah. Sementara gue masih ongkang-ongkang kaki disini dengan status Jomblo non-ngenes
Gue ga peduli dengan status jomblo non ngenes gue. Karena ada atau ga ada cowo, gue tetep bisa seneng-seneng sama temen-temen gue. Nanti kalo udah waktunya, gue yakin akan ada Mr. and Ms. Right buat para jomblo baik yang ngenes maupun non ngenes. Santai aja, everything is gonna be okay.
Walaupun gue ga peduli dengan status, tapi gue peduli dengan umur gue yang mulai menua. memang baru mau 19, tapi at least gue jadi mikir, 19 taun kebelakang, gue ngapain aja ya?? Apa yang udah gue perbuat buat hidup gue dan hidup orang lain selama ini.
Kamis, 11 November 2010
Broken Dreams
Semua orang pasti pernah punya ini. Broken Dream. Kenapa gue posting tulisan dengan judul ini?? Karena banyak banget mimpi gue yang kandas ditengah jalan gitu aja. Yea, I have lotta broken dream. 
Broken dream gue banyak banget. Hampir ga keitung. Contohnya adalah, gue mau jadi pemusik. Tapi ga akan bisa kesampean. Kenapa?? Karena gue ga dapet izin dari orang tua gue. Buat beliau terutama ibu gue, musik cuma buang-buang waktu aja. Kalo kata emak gue, mending dzikir daripada nge drum. Gue udah nego buat nge drum sambil dzikir, tetep aja ga boleh. Oke, gue yang ngalah.
Di lagunya Leona Lewis yang judulnya Yesterday, ada satu part yang sangat menggambarkan Broken dreams ini.
"All the broken dreams, take everything, Just take it away but they can never have yesterday."
Bener banget katanya Tante Leona , Kadang broken dreams ngambil semangat hidup. Gue juga begitu. Berhubung gue orangnya mudah trauma dan cepet nge down, jadi kalo misalnya gue gagal, gue langsung mengambil keputusan buat nyerah. Dan males nyoba lagi. Kenapa gue begitu?? Hmmm, banyak alesan sih sebenernya. Salah satunya adalah, karena kurang dorongan dari dalem.
Broken dreams break my heart. Iya banget. Cita-cita yang ga kesampean emang bikin patah hati. Apalagi kalo ada seseorang yang bisa mencapai mimpi lo itu. Ngirinya tujuh turunan.
Contohnya adalah gue, gue iri banget liat Anna Ivanovic karena dia bisa jadi petenis hebat. Dan gue iri banget sama Megan Fox karena dia bisa operasi kelamin. Well, pokoknya broken dreams break my heart.
Adalah sebuah hal yangmustafa mustahil kalo ada orang yang bisa mewujudkan apapun keinginannya. Ga ada seorang pun yang bisa memenuhi semua keinginannya. Semua, termasuk keinginan buat beli suatu barang, pergi ke suatu tempat, punya pasangan dengan sesuai dengan tipenya, ataupun menjadi seseorang yang dia inginkan. Contohnya, broken dreams gue yang lain adalah punya gandengan setampan Cory Monteith. Tapi ga mungkin karena gue nyadar diri seperti apa wujud gue sekarang 
Pokoknya, berapakalipun kalian jatuh karena broken dream, jangan menggunakan motto gue yang buruk ini "kalo udah jatoh ya ngapain amat" Jangan teman-teman. Motto gue ini sangat berbahaya. Ayo raih mimpi kalian yang belom tercapai. Mumpung masih hidup. Mumpung masih mampu. Kalo kalian belom bisa dan terlihat ga mungkin meraih mimpi kalian, sebaiknya tetap bersyukur dengan keadaan kalian dan jadi diri sendiri. Percayalah, bisa jadi mimpi kalian belom tentu bagus buat diri kalian.
Keep singing and enjoying your life my dear guys
Broken dream gue banyak banget. Hampir ga keitung. Contohnya adalah, gue mau jadi pemusik. Tapi ga akan bisa kesampean. Kenapa?? Karena gue ga dapet izin dari orang tua gue. Buat beliau terutama ibu gue, musik cuma buang-buang waktu aja. Kalo kata emak gue, mending dzikir daripada nge drum. Gue udah nego buat nge drum sambil dzikir, tetep aja ga boleh. Oke, gue yang ngalah.
Di lagunya Leona Lewis yang judulnya Yesterday, ada satu part yang sangat menggambarkan Broken dreams ini.
"All the broken dreams, take everything, Just take it away but they can never have yesterday."
Bener banget katanya Tante Leona , Kadang broken dreams ngambil semangat hidup. Gue juga begitu. Berhubung gue orangnya mudah trauma dan cepet nge down, jadi kalo misalnya gue gagal, gue langsung mengambil keputusan buat nyerah. Dan males nyoba lagi. Kenapa gue begitu?? Hmmm, banyak alesan sih sebenernya. Salah satunya adalah, karena kurang dorongan dari dalem.
Broken dreams break my heart. Iya banget. Cita-cita yang ga kesampean emang bikin patah hati. Apalagi kalo ada seseorang yang bisa mencapai mimpi lo itu. Ngirinya tujuh turunan.
Contohnya adalah gue, gue iri banget liat Anna Ivanovic karena dia bisa jadi petenis hebat. Dan gue iri banget sama Megan Fox karena dia bisa operasi kelamin. Well, pokoknya broken dreams break my heart.
Adalah sebuah hal yang
Pokoknya, berapakalipun kalian jatuh karena broken dream, jangan menggunakan motto gue yang buruk ini "kalo udah jatoh ya ngapain amat" Jangan teman-teman. Motto gue ini sangat berbahaya. Ayo raih mimpi kalian yang belom tercapai. Mumpung masih hidup. Mumpung masih mampu. Kalo kalian belom bisa dan terlihat ga mungkin meraih mimpi kalian, sebaiknya tetap bersyukur dengan keadaan kalian dan jadi diri sendiri. Percayalah, bisa jadi mimpi kalian belom tentu bagus buat diri kalian.
Keep singing and enjoying your life my dear guys
Jumat, 05 November 2010
UTS Sudah selesai. Libur telah Belum Tiba
Hore! Akhirnya UTS di kampus gue selesai juga. Mid semester test ini berlangsung selama kurang lebih 2 minggu. Dan hasilnya entah kapan keluarnya. Yang jelas UTS sudah selesai, Libur telah belum tiba.
Selama UTS kemaren, gue akan mereview soal-soal yang gue kerjain dengan kata-kata yang bisa diterjemahkan menurut paham masing-masing.
Ekonomi Makro : Amazing
Statistika : Boombastis
Matematika Ekonomi I : Woooowwww
Pengantar Bisnis : Magnificant
Pengantar Ekonomi Mikro : Fantastis
Pengantar Akuntansi I : Incredible
Dan sekarang, gue speechless karena ga tau hasilnya kaya apa. Gue ga tau ngerjainnya sadar apa engga. Yang pasti, senen gue udah mulai kuliah normal. Besok adalah hari dimana gue kerja sendiri. Hidup ini indah
Sebenernya gue seneng-seneng aja kuliah. Apalagi kalo udah ngumpul sama temen-temen gue. Lagi nangis juga bisa ketawa tiba-tiba.
Kalo semua orang yang abis ujian nungguin hasilnya keluar. Lain dengan gue. Gue paling males ngeliat hasil ujian.
Gue takut hasilnya ga sesuai harapan aja. Buat apa gue ujian? Buat ngikutin prosedur yang ada. Tapi sisi positifnya adalah, gue bisa pulang kuliah lebih cepet dari biasanya. Tapi tetep pulangnya jam segitu. Lagi-lagi karena busway yang menyiksa gue. Entah kenapa busway selalu menghilang di jam sibuk.
Life is all about our perspective when we see a problem. Kalo kita menganggap hasilnya baik, maka hasilnya akan baik. Tapi kalo kita mikir hasilnya bakalan jelek. Siap-siaplah dengan itu semua. Tapi menurut gue, pesimis itu perlu. Karena dengan pesimis kita bisa mempersiapkan hal buruk dan ga kaget. Tapi pesimis juga bikin hasil yang keluar jadi jelek. Mari berada di ambang optimis dan pesimis. Biar kita ga kaget kalo hasilnya ga sesuai harapan, dan kita juga ga bikin kenyataan sesuai dengan kepesimisan kit.
UTS sudah selesai, Liburnya masih lama. Tapi gue sih seneng-seneng aja kampus gue liburnya masih lama. Kan kalo libur telah tiba, gue ga bisa main sama si sayong, Ichong, sama Wuyong
Buat yang kuliah, semoga hasil UTS sama UAS kita sesuai harapan. Buat yang sekolah, semoga mid testnya lancar, buat yang kerja, semoga gajinya naik. Mohon traktirannya kalo gajinya naik.
Selama UTS kemaren, gue akan mereview soal-soal yang gue kerjain dengan kata-kata yang bisa diterjemahkan menurut paham masing-masing.
Ekonomi Makro : Amazing
Statistika : Boombastis
Matematika Ekonomi I : Woooowwww
Pengantar Bisnis : Magnificant
Pengantar Ekonomi Mikro : Fantastis
Pengantar Akuntansi I : Incredible
Dan sekarang, gue speechless karena ga tau hasilnya kaya apa. Gue ga tau ngerjainnya sadar apa engga. Yang pasti, senen gue udah mulai kuliah normal. Besok adalah hari dimana gue kerja sendiri. Hidup ini indah
Sebenernya gue seneng-seneng aja kuliah. Apalagi kalo udah ngumpul sama temen-temen gue. Lagi nangis juga bisa ketawa tiba-tiba.
Kalo semua orang yang abis ujian nungguin hasilnya keluar. Lain dengan gue. Gue paling males ngeliat hasil ujian.
Gue takut hasilnya ga sesuai harapan aja. Buat apa gue ujian? Buat ngikutin prosedur yang ada. Tapi sisi positifnya adalah, gue bisa pulang kuliah lebih cepet dari biasanya. Tapi tetep pulangnya jam segitu. Lagi-lagi karena busway yang menyiksa gue. Entah kenapa busway selalu menghilang di jam sibuk.
Life is all about our perspective when we see a problem. Kalo kita menganggap hasilnya baik, maka hasilnya akan baik. Tapi kalo kita mikir hasilnya bakalan jelek. Siap-siaplah dengan itu semua. Tapi menurut gue, pesimis itu perlu. Karena dengan pesimis kita bisa mempersiapkan hal buruk dan ga kaget. Tapi pesimis juga bikin hasil yang keluar jadi jelek. Mari berada di ambang optimis dan pesimis. Biar kita ga kaget kalo hasilnya ga sesuai harapan, dan kita juga ga bikin kenyataan sesuai dengan kepesimisan kit.
UTS sudah selesai, Liburnya masih lama. Tapi gue sih seneng-seneng aja kampus gue liburnya masih lama. Kan kalo libur telah tiba, gue ga bisa main sama si sayong, Ichong, sama Wuyong
Buat yang kuliah, semoga hasil UTS sama UAS kita sesuai harapan. Buat yang sekolah, semoga mid testnya lancar, buat yang kerja, semoga gajinya naik. Mohon traktirannya kalo gajinya naik.
Rabu, 03 November 2010
mau burger daging apa jamur *tolong jawabannya angan terserah atau gue ngikut*
mau burger daging apa jamur *tolong jawabannya angan terserah atau gue ngikut*
Answer here
Langganan:
Postingan (Atom)